TAHUKAH Anda, angka kejadian penyakit metabolik dan endokrin saat ini tergolong cukup tinggi? Penyakit ini bersifat kronik dan progresif sehingga dibutuhkan pemantauan dan pengendalian terus-menerus untuk mencegah atau memperlambat komplikasi kronis.
Faktanya, penyakit metabolik dan endokrin (diabetes, tiroid, tumor hipofisis, kelenjar paratiroid, adrenal, gonad, metabolisme kalsium dan tulang, serta beberapa penyakit hormonal lain) sering ditemukan terlambat disebabkan belum meratanya pengetahuan dokter di bidang ini, selain ketidakpatuhan pasien. Untuk diketahui, Poliklinik Penyakit Dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) menemukan setidaknya 80 persen kasus diabetes, 10 persen tiroid, dan 10 sisanya non tiroid.
“WHO memprediksikan penderita diabetes mellitus tipe 2 di Indonesia sebesar 8.4 juta pada tahun 2000, kemudian meningkat menjadi 21,3 juta pada 2010. Beberapa kota di Indonesia bahkan diketahui memiliki angka penderita cukup banyak, yakni Sumatera Utara, Jawa Timur, dan Sulawesi. Hal ini dipengaruhi gaya hidup, kebiasaan makan gorengan, fast food, maupun makanan lokal yang mengandung gula dalam kadar yang tinggi,” tutur Dr dr Budiman Widjodjo, SpPD pada konfrensi pers The 7th Jakarta Endocrine Meeting dan The 20th Jakarta Diabetes Meeting (JEM), Jade Room, Hotel Nikko, Rabu (8/6/2011).
Dijelaskan Dr dr Budiman Widjodjo SpPD, sekali seorang terkena diabetes, maka sepanjang hidupnya akan terus diabetes. Langkah terbaik yang dapat dilakukan ialah melakukan pencegahan, di antaranya rutin mengontrol gula darah, mengontrol asupan lemak dan kolesterol tubuh, serta mengukur lebih lanjut lingkar perut. Lho kok?
“Cara termudah untuk mendeteksi apakah seseorang berisiko terkena diabetes ialah mengukur lingkar perut. Waspadai jika lingkar perut melebihi 80 cm bagi wanita dan 90 cm bagi pria. Karena penyakit diabetes mellitus merupakan penyakit yang diturunkan secara genetik, penting bagi penderita untuk melakukan skrining keluarga terhadap kemungkinan adanya diabetes,” tambah Dr dr Budiman Widjodjo SpPD.
Salah satu fokus dalam konferensi JEM adalah penyakit pada kelenjar tiroid. Tiroiditis ialah peradangan dari kelenjar tiroid yang mungkin memberikan rasa nyeri dan keras bila diraba.
“Penyakit tiroid lebih banyak dialami wanita dibandingkan pria. Gejala hipotiroidisme ringan, misalnya mudah lelah, maka sering kali lepas dari perhatian penderita dan luput dari diagnosis. Bisa dibilang penyakit ini disebabkan kurangnya asupan yodium dalam tubuh,” papar dr Suharko Soebardi, SpPD-KEMD, pada kesempatan yang sama.
Ditambahkan pembicara lain, dr Suharko Soebardi, SpPD-KEMD, pilihan untuk sembuh yang dapat diambil oleh sang penderita ialah pengangkatan kelenjar tiroid. Apakah hanya sebagian atau seluruhnya, tergantung dari tingkat keganasan.
0 komentar